Entahlah! Ego, nafsu hewaniah ini masih sangat besar bersarang dalam hati sanubariku. Ketika sedang membicarakan/mengobrol hal-hal yang sensitif belum bisa aku menetralkan suasana atau mencapai tujuan pembicaraan yang pas, cocok, akurat, berkualitas. Itu adalah hal yang harus terus dilatih. Semoga Allah membuatku lebih baik lagi. Lagi dan terus lagi.
Ketika pertama mengobrol dengannya, entah kenapa obrolan ini bisa bertahan hampir 3 jam lamanya nonstop? Hahaha sesuatu.
Ada sih sesuatu yang membuat hati dan fikiran terbayang tentangnya. Namun ketika rasa berharap kepada makhluq, itu rasanya, ujungnya, cukup satu kata, mengecewakan!
Makanya mudah-mudahan aku hanya berharap kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Aku takut sekali obrolanku menyakiti hati seseorang, yang bukan konteksnya berbicara tentang hal yang dimaksudkan.
Ketika sedang mengobrol, aku tidak mau menyakiti hati seseorang dan tidak mau melukai hatiku sendiri.
Salah niat diawal, membuat salah juga diakhirnya.
Intinya, aku harus berharap hanya pada Allah Subahanahu Wa Ta'ala. Titik.
Makhluq adalah ciptaan-Nya. Khaliq adalah sang Pencipta. Layakkah, patutkah, brengsekkah diri ini ketika berharap pada makhluq-Nya daripada Sang Maha Pencipta-Nya? Brengsek sekali diri ini. Hina jika seperti itu adanya.
Semoga Allah mengampuni seluruh dosaku dan dosa(nya).
Wallahu A'lam bisshawab.
Follow Us
Were this world an endless plain, and by sailing eastward we could for ever reach new distances